
Kasus penyembelihan seekor tapir yang viral di Kabupaten Mesuji, Lampung, memicu perhatian publik. Satwa dilindungi tersebut diketahui melintas di kawasan Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum), Register 45, sebelum akhirnya dibunuh oleh enam warga yang diduga berniat mengonsumsinya.
Peristiwa itu menuai keprihatinan karena Tapir Malaya (Tapirus indicus) merupakan satwa langka yang keberadaannya semakin terancam. Selain dilindungi oleh hukum di Indonesia, spesies ini juga berstatus Endangered atau terancam punah menurut Daftar Merah IUCN akibat penyusutan habitat, perburuan, serta konflik dengan manusia.
Ketua Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI) sekaligus Dekan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Budi Setiadi Daryono, menegaskan bahwa hilangnya satu individu tapir merupakan kerugian besar bagi upaya pelestarian satwa tersebut.
Menurutnya, setiap individu memiliki peran penting dalam mempertahankan populasi yang saat ini terus mengalami tekanan. Karena itu, pembunuhan terhadap tapir bukan hanya melanggar aturan, tetapi juga menjadi kemunduran bagi konservasi keanekaragaman hayati.
Apakah Tapir Keluar dari Habitatnya?
Kemunculan tapir di sekitar permukiman membuat banyak orang beranggapan satwa tersebut keluar dari habitat alaminya. Namun, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu-Lampung memiliki penjelasan berbeda.
Kepala Unit Polisi Kehutanan BKSDA Bengkulu-Lampung, M. Husen, menyebut kawasan Register 45 hingga wilayah Mesuji dan Tulang Bawang memang masih termasuk habitat alami Tapir Malaya.
Artinya, keberadaan tapir di lokasi tersebut bukan berarti satwa itu tersesat jauh dari habitatnya. Justru masyarakat setempat sudah cukup sering menjumpai tapir yang secara lokal dikenal dengan sebutan “tenuk”.
Meski demikian, saat ini sebagian habitat tersebut juga telah dihuni dan dimanfaatkan manusia sehingga peluang terjadinya pertemuan antara manusia dan satwa liar menjadi semakin besar.
Gangguan Habitat Diduga Jadi Penyebab
Pakar konservasi dari IPB University, Dr. Abdul Haris Mustari, menjelaskan bahwa kemunculan tapir di area yang dekat dengan aktivitas manusia dapat menjadi indikator adanya tekanan terhadap ekosistem hutan.
Tapir dikenal sebagai satwa nokturnal yang cenderung menghindari manusia. Karena itu, apabila hewan ini mulai terlihat di sekitar permukiman, kemungkinan terdapat perubahan besar pada lingkungan tempat hidupnya.
Menurut Mustari, penyusutan kawasan hutan akibat alih fungsi lahan menjadi perkebunan, permukiman, hingga area pertambangan membuat ruang jelajah tapir semakin sempit. Kondisi tersebut juga mengurangi ketersediaan sumber makanan sehingga satwa terdorong mencari lokasi lain yang dianggap lebih aman.
Ia menduga tapir yang ditemukan di Mesuji telah menempuh perjalanan cukup jauh dalam kondisi lemah serta kekurangan pakan dan air sebelum akhirnya bertemu dengan manusia.
Tapir Berperan Penting bagi Kelestarian Hutan
Tapirus indicus merupakan satu-satunya spesies tapir yang hidup di kawasan Asia. Mamalia berkuku ganjil ini memiliki panjang tubuh sekitar 1,8 meter dengan berat yang dapat mencapai 300 hingga 350 kilogram.
Salah satu ciri khasnya adalah belalai pendek hasil evolusi hidung dan bibir yang berfungsi membantu memilih makanan, mengenali aroma, serta memudahkan navigasi di habitat hutan.
Sebagai herbivora, tapir memakan berbagai jenis tumbuhan dan buah-buahan. Biji yang tertelan kemudian tersebar melalui kotorannya sehingga membantu regenerasi vegetasi di hutan tropis.
Karena peran tersebut, tapir dikenal sebagai penyebar biji (seed disperser) sekaligus spesies kunci (keystone species) yang berkontribusi menjaga keseimbangan ekosistem. Beberapa jenis tumbuhan bahkan hanya dapat berkecambah setelah melewati proses pencernaan tapir.
Selain itu, satwa ini juga digolongkan sebagai umbrella species, yakni spesies yang perlindungan habitatnya turut menjaga kelangsungan hidup banyak satwa lain, serta flagship species, yaitu satwa ikonik yang menjadi simbol penting dalam upaya konservasi.
Para ahli mengingatkan bahwa menjaga kelestarian tapir tidak hanya berarti melindungi satu spesies langka, tetapi juga mempertahankan keseimbangan ekosistem hutan yang menjadi penopang kehidupan berbagai makhluk hidup, termasuk manusia.
